Sabtu, 31 Oktober 2015

Manfaat Musik Instrument Bagi Otak

MANFAAT MUSIK INSTRUMENT BAGI OTAK
 

Musik merupakan suatu alunan nada-nada yang harmonis melalui alat musik baik itu alat musik tunggal maupun gabungan beberapa alat musik.

Hampir setiap orang bahkan mungkin semua orang di dunia ini senang mendengarkan musik, walaupun setiap orang mempunyai kesukaan yang berbeda dalam hal jenis musik, namun tidak hanya itu dengan mendengarkan musik ternyata bisa bermanfaat juga untuk kesehatan.

Jenis musik yang bisa bermanfaat untuk kesehatan adalah musik klasik, celtic dan musik-music yang lembut seperti instrumental music atau relaxing music.

Manfaat mendengarkan musik klasik atau instrumental music untuk kesehatan:
  • Mengurangi tekanan darah, untuk mereka yang mempunyai tekanan darah tinggi dianjurkan untuk setiap pagi dan malam minimal 30 menit mendengarkan musik yang tenang seperti musik klasik atau celtic bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah.
  • Membuat suasana hati lebih rileks, lewat beberapa penelitian bahwa mendengarkan musik lembut ternyata dapat meningkatkan suasana hati menjadi lebih senang dan rileks, sangat bermanfaat untuk mereka yang sedang mengalami stres.
  • Daya tahan tubuh meningkat, menurut penelitian dengan mendengarkan musik juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh sekitar 15 persen, suatu penelitian yang dilakukan  dengan mendengarkan musik sambil berolahraga ternyata dapat membuat kondisi tubuh tetap prima dan dapat bertahan lebih lama.
  • Pikiran lebih fokus, lewat penelitian yang dilakukan dengan mendengarkan musik yang lembut dapat merangsang aktivitas didalam otak, sehingga meningkatkan pikiran menjadi lebih fokus dan rileks.
  • Kemampuan otak meningkat, lewat penelitian dengan mendengarkan musik terbukti dapat meningkatkan fungsi otak, memperkuat daya ingat, meredakan stres, membantu mereka yang mengalami kondisi mental yang kurang stabil serta meningkatkan kecerdasan.
  • Terapi penyembuhan penyakit, dengan musik para pasien yang sedang menjalani terapi dapat terbantu karena musik ternyata dapat memberi dampak positif bagi pengobatan penyakit jangka panjang seperti kanker, stroke, jantung maupun gangguan pernafasan, menurut beberapa penelitian musik dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa cemas, rasa sakit, detak jantung lebih stabil.
  • Membantu penderita imsomnia, bagi mereka yang sulit tidur atau penderita insomnia dianjurkan untuk mendengarkan musik yang lembut atau musik klasik selama 45 menit sebelum tidur, dengan musik ini otak menjadi rileks sehingga dapat tidur dengan pulas.
  • Membantu perkembangan janin, beberapa penelitian membuktikan bahwa janin yang diperdengarkan musik klasik akan membuat pertumbuhan janin lebih baik dan membuat si anak nantinya lebih pintar.
  • Meningkatkan kemampuan motorik, penelitian membuktikan juga bahwa mereka yang mendengarkan musik sebelum berolahraga kemampuan motoriknya akan meningkat sehingga dapat melempar, melompat dan menangkap lebih baik dan lebih fokus.
  • Merangsang hormon dopamine, musik klasik bisa merangsang hormon dopamine yaitu hormon yang mempengaruhi mood, emosi serta daya ingat, musik klasik seperti karya Mozart dan Vivaldi dapat menaikkan mood sehingga mempengaruhi mood menjadi lebih bersemangat.
Tapi memang benar, musik terutama instrument amatlah memiliki pengaruh yang besar bagi otak kita. Saya sendiri saja, harus mendengarkan musik ketika belajar. Entah mengapa saya lebih bisa mencerna sebuah materi ketika saya mempelajarinya sambil mendengarkan musik instrument. Lebih nyaman, tenang dan lebih melekat pada otak. Namun, tidak semua orang menyukai musik instrument, dan setiap orangpun memiliki cara yang berbeda-beda dalam belajar. Ada yang senang sambil mendengarkan musik atau bahkan ada yang lebih suka belajar dalam keadaan yang sunyi dan sepi.

Ciri-Ciri Berfikir Filsafat

    CIRI-CIRI BERFIKIR FILSAFAT 
 


Manusia memiliki pola berpikir yang lebih kritis dibandingkan dengan mahluk lainnya, sehingga manusia dikatakan sebagai mahluk yang sempurna. Lalu bagaimanakah cara membedakan orang yang berbikir biasa dengan orang yang berpikir filosofi?. Berikut ini beberapa ciri-ciri manusia yang berpikir filosofi:

1. Berpikir secara menyeluruh. Artinya, Pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu - ilmu yang lain, hubungan ilmu dan moral, seni dan tujuan hidup.

2. Berpikir secara mendasar. Seorang filosof tidak percaya begitu saja kebenaran ilmu yang diperolehnya. Ia selalu ragu dan mempertanyakannya; Mengapa ilmu dapat disebut benar?, Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan?, Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar itu sendiri apa? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan-pertanyaan pun selalu muncul secara bergantian. Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial obyek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya berhenti pada periferis (kulitnya) saja, tetapi sampai tembus ke kedalamannya.

3. Berpikir secara spekulatif. Seorang filosof melakukan spekulasi terhadap kebenaran. Sifat spekulatif itu pula seorang filosof terus melakukan uji coba lalu melahirkan sebuah pengetahuan dan dapat menjawab pertanyaan terhadap kebenaran yang dipercayainya.

4. Berpikir secara sistematik. Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah, para filsuf memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses befilsafat. Pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung maksud dan tujuan tertentu.

5. Berpikir dengan pemikiran yang bertanggungjawab. Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Seorang filsuf seolah-olah mendapat panggilan untuk membiarkan pikirannya menjelajahi kenyataan. Namun, fase berikutnya adalah bagaimana ia merumuskan pikiran-pikirannya itu agar dapat dikomunikasikan pada orang lain serta dipertanggungjawabkan.

6. Berfikir secara koheren dan konsisten. Artinya, berfikir sesuai dengan kaidah-kaidah berfikir dan tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut.

Berdasarkan ciri-ciri filsafat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berfilsafat adalah suatu aktivitas yang menggunakan potensi akal seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa dibatasi oleh sesuatu apapun secara radikal, tersistematis, universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran. Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian, tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai penyelesaian.

Idealisme VS Realita

IDEALISME VS REALITA
 
Berdiri di antara idealisme dan realita. Tak jarang kita berat sebelah, saat kita membela idealisme ternyata kita melihat realita yang semakin buruk. Saat kita berpihak pada realita, ternyata kita secara tak sadar sudah meninggalkan idealisme kita dan juga kadang sudah meninggalkan watak ilmu yang seharusnya kita miliki.
Dilema, ya, itulah kata yang menurut saya akan dirasakan ketika seorang yang idealis bertemu realita kehidupan. Seorang mahasiswa yang dikenal memiliki idealisme yang tinggi seringkali menghadapi kesulitan ketika sudah lepas dari status mahasiswanya, ketika harus mulai menjalani realita kehidupan yang ternyata jauh dari bayangan seorang idealis. Seringkali realita kehidupan menuntut seseorang untuk mengecilkan idealismenya, atau malah terpaksa tunduk pada realitas dan meninggalkan semua keidealisan yang pernah dibanggakannya. Hingga ada yang mengatakan bahwa seorang mahasiswa yang idealis itu nantinya ketika sudah masuk kedalam realita, ia juga tidak berbeda dengan yang lainnya. Yang lebih parah adalah ketika idelisme bertemu dengan realitas, tidak hanya idelisme yang runtuh, bahkan diri kita pun bisa ikut hancur. Atau sebaliknya ketika idelisme dipaksa mengalahkan realitas, justru juga akan menghancurkan kita.
Apakah memang harus seperti itu? Apakah kita harus menanggalkan idealisme kita demi memenuhi hasrat realita? Jika benar seperti itu, kapan perubahan untuk menjadi lebih baik akan terjadi? Jika semua tunduk takluk pada realita yang terus mengakar mengokohkan namanya menjadi karakter dan budaya bangsa. Haruskah membiarkan realita yang buruk menjadi wajah dari bangsa kita?
Pertanyaan ini sempat muncul ketika saya masih menjadi mahasiswa tingkat pertengahan. Pertanyaan yang membuat saya berfikir bahwa tidak ada gunanya mahasiswa bersifat idelis. Walaupun saya juga merasa tidak menjadi idealnya seorang idelis, saya tidak ingin membuang idealisme yang menjadi jalan lurus untuk hidup dengan tenang. Idealisme yang berpegang pada kebenaran. Akankah nantinya idelisme itu hanya menjadi cerita gurauan para orang tua saat mengenang masa-masanya menjadi mahasiswa?
Suatu hari saya berdiskusi dengan sahabat saya tentang pandangan orang terhadap idealisme mahasiswa yang nantinya, kata mereka, akan pudar ketika bertemu realitas. Dia menyampaikan—dari hasil bacaanya di sebuah buku—bahwa ketika idelisme berhadapan dengan realitas, dua hal ini tidak boleh dibenturkan. Walaupun dua hal ini saling bertentangan satu sama lain, ketika kita memaksa untuk membenturkan mereka, maka salah satu akan kalah dan meninggalkan kita. Dalam dunia nyata, seringkali idealismelah yang kalah ketika bertarung melawan realitas. Lalu apa yang harus dilakukan untuk menghindari hal itu? Ketika kita harus berhadapan langsung dengan realitas, tanpa harus membenturkannya dengan idealisme apalagi meruntuhkan idealisme kita.
Yang kita lakukan adalah memunculkan optimisme, ya, optimisme yang akan melerai pertengkaran antara idealisme dan realitas. Optimisme yang akan membuat idealisme itu tetap bertahan di tengah serangan realitas.
Optimisme ini adalah keyakinan bahwa idealisme yang benar harus dipertahankan. Sementara perlahan-lahan berusaha mempengaruhi realita. Ketika optimisme ini sudah muncul maka selama ada celah untuk idelisme, dia akan tetap masuk tanpa harus berseteru dengan realita. Walaupun harus ada gesekan antara keduanya, tapi tidak membuat idealisme atau diri kita hancur. Pertahankan optimisme itu agar dapat terus hadir dan berdiri tegak hingga pengaruhnya tidak terbendung lagi.
Semoga orang-orang yang masih memiliki idelisme saat ini bisa bertahan dengan back up dari optimisme, optimisme yang akan membawa generasi ini kepada masa depan yang cerah, yang berani menatap kedepan dan mengatakan tidak pada keburukan realitas yang dapat menggerogoti setiap sisi kehidupan. Percayalah, idelisme itu bisa bertahan! Optimis.
Pesan: Mari berjalan di jalan kebenaran, karena di jalan itu—walaupun sering terasa berat dan sulit—pertolongan Tuhan selalu menyertai kita.

Menulis Tidak Kalah Pamor Dengan Mengetik!

 Menulis Tidak Kalah Pamor Dengan Mengetik!


 

Kebiasaan menulis tangan mulai tergantikan dengan pola mengetik di zaman sekarang. Tak bisa dimungkiri, mengetik dirasa lebih praktis oleh generasi masa kini. 

Kelebihan dari proses mengetik itu pun diamini oleh ahli pendidikan di Finlandia. Seperti dilansir The Guardian, mulai 2016 nanti pelajaran menulis indah akan diganti kemampuan mengetik dengan keyboard.


Revolusi menulis pun kini semakin terasa. Meskipun sebenarnya, baik menulis atau mengetik punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya dapat saling mempengaruhi kehidupan Anda dari berbagai sisi. Berikut ini beberapa alasannya:


Daya ingat 
Daya ingat pada saat menulis dirangsang dengan adanya gerakan tangan. Menulis juga mengizinkan Anda mencerna informasi sebelum dicatat. Berdasarkan studi Anne Mangen dari University of Stavangers Reading Centre, menulis dengan tangan meninggalkan jejak di sensorimotor pada otak manusia. Bagian ini meningkatkan kemampuan visual mengenal huruf dan angka sehingga Anda lebih ingat apapun yang ditulis. Sementara itu, proses berpikir hilang ketika Anda mengetik. Anda dapat dengan cepat menyalin kata per kata dari lawan bicara tanpa harus menyerap informasi yang ada.


Proses belajar 
Ada banyak hal bisa mengganggu Anda ketika mengetik. Perangkat komputer atau ponsel membuka pintu pada beragam gangguan, seperti godaan menonton video di internet atau berkirim pesan dengan teman. Pada saat menulis tangan, Anda bisa lebih fokus karena tidak ada hal lain yang ditawarkan. Hanya ada Anda, catatan, dan beragam tugas yang harus selesai di depan mata.


Hemat waktu
Menulis tangan memang diakui memakan waktu lebih lama ketimbang proses mengetik. Anda masih harus memindahkan tulisan pada format digital jika ingin dikirimkan pada orang lain. Sementara jika mengetik, hasilnya dapat langsung dicetak atau digandakan.

Rahasia Dibalik Kebiasaan Membaca

Rahasia Dibalik Kebiasaan Membaca

Membaca tak hanya menjadi cara untuk menambah pengetahuan. Ada sejumlah rahasia di balik kebiasaan ini. 

Sejumlah tokoh dunia dikenal punya kegemaran rutin membaca, bahkan di setiap pagi sembari meminum kopi. Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, adalah salah satu tokoh yang setiap pagi rutin membaca media massa utama.
Pendahulu Obama, Bill Clinton, juga diketahui suka membaca novel. Karya Ralph Ellison masuk daftar bacaan favoritnya.

Di antara sekian rahasia kebiasaan membaca adalah manfaatnya bagi kecerdasan otak. Membaca juga tak selalu berarti dari buku atau media cetak.

Perkembangan teknologi telah memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan lewat dunia maya. Misalnya, memakai peranti bergerak seperti Samsung Galaxy Tab S2.

Mobilitas yang semakin tinggi, memungkinkan perangkat teknologi mobile memberikan andil lebih besar dalam kehidupan keseharian. Membaca bukan perkecualian. 

Terlebih lagi, layar Super AMOLED maupun dimensi dengan ketebalan tak lebih dari 5,6 milimeter seperti yang dipasang pada tablet tersebut, memberikan ketajaman warna dan membuatnya gampang dijinjing yang bisa memudahkan kebiasaan membaca. 

Berikut ini adalah berapa manfaat yang bisa didapat dari kebiasan membaca:

Perspektif dalam berpikir 
Clinton berpendapat, membaca merupakan cara dia mendapatkan referensi, dari literatur hingga aneka sudut pandang atas sebuah persoalan. Dalam konteks Clinton, misalnya, dia mengaku mendapatkan sudut pandang sebagai politisi tentang diskriminasi ras dari novel The Invisible Man dan I Know Why the Caged Bird Sing.

Kemampuan menulis dan berbicara 
Banyak orator besar dikenal sebagai sosok kutu buku. Sebut saja Soekarno, Nelson Mandela, juga Abraham Lincoln. Mereka mengembangkan kemampuan berbicara dan mempengaruhi audiens berbekal kegemaran membaca. 

Membantu pembelajaran
Thorndike, ahli pembelajaran asal Amerika Serikat, menyatakan belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respons. Menurut dia, perubahan tingkah laku bisa berwujud sesuatu yang dapat diamati atau yang tidak dapat diamati. Membaca, kata Thorndike, membantu proses pembelajaran dengan merangsang otak merespons materi bacaan. 

Mengasah otak
Dalam buku The New IQ, ingatan jangka panjang bisa dilatih, salah satunya lewat membaca. Bahkan, membaca disebut sebagai latihan terbaik untuk otak dan daya ingat. Setiap halaman dan chapter yang biasa dibaca akan mengendap dalam ingatan. Untuk menantang kemampuan otak dan daya ingat, ada baiknya menjajal beragam buku, pengarang, dan gaya penulisan.

Filosofi Kopi (Dee)

Filosofi Kopi (Dewi  Lestari)

 

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah Ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah Ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang makin berdekatan, tapi Ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Nafas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat, janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.
”Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara kepada diri sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia.”
“Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”
“Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan”
“Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.”
“…membuka diri tidak sama dengan menyerahkan”
“Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. Dan disanalah kehebatan kopi tiwus, memberikan sisi pahit yang membuatmu melangkah mundur dan berfikir”.
“Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya”
“Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercu suar, kompas, bintang selatan…yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya menemuiku”
Dewi Lestari (Dee)

Kumcer Burung Kolibri Merah Dadu (Kurnia Effendi)

Burung Kolibri Merah Dadu


Judul Buku: Burung Kolibri Merah Dadu
Penulis: Kurnia Effendi
Cetakan 1, Februari 2007
Penerbit: C Publishing

Kurnia Effendi adalah penulis cerpen yang tumbuh di halaman-halaman majalah remaja seperti Gadis dan Anita Cemerlang. Sekarang ia dikenal sebagai seorang penulis cerpen prolifik. Dari lahan imajinasinya yang subur telah lahir 4 kumpulan cerpen yaitu Senapan Cinta (2004), Bercinta di Bawah Bulan (2004), Kincir Api (2005) dan Aura Negeri Cinta (2005).  

Kurnia adalah seorang cerpenis yang piawai, tangkas dalam seleksi diksi dan indah dalam perangkaian kata. Tuturannya seringkali lembut, bening dan halus. Oleh karena itu, ketika menggunakan nama Nia Effendi, banyak orang yang menyangka dia seorang perempuan. Cerpen-cerpen Kurnia yang umumnya merambah wilayah romantis selalu menarik. Tidak sekadar manis, tetapi gurih dan segar. Membaca rangkaian kata-katanya, meminjam ungkapan Meg Cabot (penulis serial The Princess Diaries) ketika mengomentari To Kill a Mockingbird karya Harper Lee, oleh Kurnia every word has been as carefully strung together as if it were a precious jewel. Saya kira, siapa pun yang telah membaca cerpen-cerpen Kurnia dalam setiap antologi cerpennya akan setuju.

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang, 14 Februari 2007, Kurnia meluncurkan kumpulan cerpennya yang kelima bertajuk indah Burung Kolibri Merah Dadu. Burung Kolibri Merah Dadu adalah kumpulan cerpen yang ditulis dalam rentang waktu 2 dekade lebih, sejak tahun 1983 (Langit Makin Ungu) sampai tahun 2006 (Cinta Separuh Malam). Oleh karena itu, antologi ini bagaikan rekaman perjalanan Kurnia dalam belantika sastra Indonesia menuju kematangannya berkarya. Buku ini membuktikan bahwa ia bukan wajah baru dalam dunia sastra Indonesia karena telah meretas perjalanan yang tergolong panjang dan senantiasa bersetia pada jalur yang ia pilih. Meskipun karya-karya cerpennya baru mulai dibukukan pada tahun 2004.

Angsa Putih terpilih sebagai sajian pembuka yang cantik. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Kisah cinta yang tidak pasti antara Paramita dan Faisal, seorang pria yang hampir tidak percaya cinta dan kesetiaan. Faisal menghilang dari kehidupan Paramita dan sebuah patung porselen miniatur seekor angsa putih pemberiannya menjadi pengganti kehadirannya. Angsa putih disepakati oleh keduanya sebagai lambang kesetiaan, ide yang lahir setelah menonton film Out of Africa karya Sydney Pollack dengan Meryl Streep dan Robert Redford sebagai pemeran utama. Tiba-tiba lambang kesetiaan dari porselen itu hancur berkeping-keping, padahal sudah dijaga sedemikian rupa oleh Paramita. 

Sekalipun sangat sederhana, dengan mulus Kurnia berhasil mengolah cerita ini menggunakan perspektif penceritaan orang kedua yang begitu menawan, sehingga cerpen seakan-akan menjadi curhat seorang Paramita terutama kepada pembaca pria. Cerita yang diawali dengan sendu pada saat pecahnya patung porselen angsa putih, berakhir manis, bertolak belakang dengan kisah cinta dalam Out of Africa. Tak heran cerpen ini diposisikan sebagai sajian pembuka antologi cerpen laki-laki yang menggunakan nama sahabat-sahabatnya pada karakter rekaannya. Secara pribadi, saya berpendapat  cerpen ini sebagai salah satu ekspresi kelembutan yang paling romantis dari Kurnia dalam antologi ini. 

Tema cinta yang memiliki kecenderungan manis juga dapat ditemukan dalam Gerimis Februari dan Hari-hari Merah Jambu. Gerimis Februari diceritakan dengan kalem dan terkendali sebagaimana cinta yang berkembang dari persahabatan yang manis. Kurnia memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberi akhir pada cerpen ini walau seperti pengakuannya ide ceritanya adalah kisah cinta dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya.  Hari-hari Merah Jambu yang semanis judulnya terkesan bak film-film romantis Hollywood, apalagi dengan adegan kocak yang dilakukan Bram di bandara. 

Walaupun masih seirama dengan cerpen-cerpen sebelumnya, Sekuntum Lily yang berkisah tentang cinta segitiga antara Fatin, Yuda, dan Uka menunjukkan bahwa meski sering rumit cinta tetap bisa memberikan harapan. Kerumitan cinta yang manis juga dapat ditemukan dalam Burung Kolibri Merah Dadu yang menceritakan tentang Fransiska yang kembali ke Indonesia setelah pergi keluar negeri pasca perceraian dengan Jimmy, suaminya. Fransiska akhirnya menemukan harapan cintanya pada Jodik Givara, seorang penyair yang mencintainya. Susan dalam Kemilau Senja menemukan cinta Lukas, lelaki yang pernah 'singgah' dalam hidupnya dan menghilang dari orbit, di Mandalawangi. Sedangkan dalam cerpen yang panjang (Kurnia menyebutnya novela), Selamat Datang Matahari, Hanum menemukan matahari yang hilang karena ulah Joko Hindarto dalam kelembutan hati Dery, saudara kembar Nadia.

Cinta di tangan Kurnia tidak berarti selalu merah jambu. Dalam Langit Makin Ungu, Nana yang tidak sanggup melepaskan cengkeraman masa lalu menolak kehadiran Basunondo tetapi menyesali keputusannya saat pria itu memutuskan meninggalkan tanah air. Arga, seorang anak muda yang populer di antara gadis-gadis, harus menerima penolakan Seruni demi cinta perempuan lain, sebagai bentuk kebeningan hati gadis itu (Di Ujung Senja). Harry Sarjono, setelah menikmati kebersamaan yang indah dengan Keiko yang membuatnya berpikir tentang cinta, ditinggalkan Keiko dalam ketidakpastian (Berjalan di sekitar Ginza). Sepanjang Braga mengisahkan seorang penulis fiksi tanpa nama yang patah hati ditinggal mati gadis yang dicintainya. Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung adalah kisah kasih tak sampai antara Katy dan Mahendra karena seorang gadis bernama Svetlana.

Dua cerpen, Merpati Stefani dan Cinta Separuh Malam seperti butir yang lepas dari rangkaian kisah. Kedua cerpen ini tidak bercerita cinta seperti cerpen-cerpen lainnya. Cinta dalam Merpati Stefani adalah cinta seorang gadis bernama Stefani kepada sepasang merpati dan cinta burung-burung itu sendiri. Sedangkan Cinta Separuh Malam bertutur tentang pertemanan seorang penulis yang tidak lain adalah penulis sendiri di masa depan dengan seorang perempuan separuh baya pemilik toko buku. 

Hal lain yang ditangkap pada eksplorasi Kurnia adalah pengimbuhan kejutan pada akhir cerpen-cerpennya. Hari-hari Merah Jambu, Langit Makin Ungu, Di Ujung Senja menjadi contoh cerpen Kurnia dengan akhir yang mengejutkan.

Tetapi, Angsa Putih dan Sepanjang Braga akan menjadi favorit karena keindahan puitis yang mengiris yang ditorehkan dengan elegan.

Seluruh cerpen dalam buku ini walaupun terentang dalam kurun waktu yang cukup panjang memiliki persamaan yaitu disajikan dengan gaya romantis, bahasa apik, indah, dan menyentuh. Sehingga tema seperti Merpati Stefani dan Cinta Separuh Malam yang biasa-biasa saja masih tetap menarik dibaca. Bukan karena konflik yang disodorkan tetapi semata-mata karena gaya bercerita yang memikat. Pada beberapa cerpen lama, rupanya secara sengaja Kurnia mengadakan perubahan. Hal itu tampak pada penggunaan ponsel dan surat elektronik yang pada saat cerpen ditulis penggunaannya belum umum seperti sekarang. Padahal, mengingat kumcer ini seumpama rekaman perjalanan kepenulisan, ia tidak perlu mengubahnya. Pencantuman kapan cerpen itu diterbitkan telah cukup menggambarkan seting waktu yang digunakan pengarang. Dan pembaca yang arif bisa memahaminya. Toh saat ini kita masih tetap membaca karya-karya yang tetap dipertahankan seperti awalnya meskipun zaman telah berubah. Apalagi bagi sebagian pembaca yang telah mengenal Kurnia membaca antologi ini akan menjadi semacam nostalgia.

Secara pribadi saya tidak sepakat jika cerpen-cerpen remaja Kurnia dibandingkan misalnya dengan teenlit dan dirasakan 'kuno' karena cara penyajiannya. Bahasa selalu berkembang, dan kita tahu pasti pada tahun-tahun keaktifan Kurnia menulis cerpen remaja, saat itu remaja juga sudah memiliki bahasa gaul sendiri. Tetapi ketika itu, Kurnia membuktikan dirinya bisa memikat para pembaca seperti yang diungkapkan Reda Gaudiamo (hlm. XV) tanpa memaksakan diri menggunakan bahasa gaul yang sering mengaburkan batas antara bahasa lisan dan tulisan. Pilihan Kurnia dengan bahasa yang apik dan indah justru menjadi semacam positioning bagi karya-karya yang dihasilkannya.

Pada tahun 2005, penerbit Grasindo bekerja sama dengan Radio Nederland Seksi Indonesia melaksanakan sayembara mengarang novel remaja (teenlit). Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati berhasil menjadi pemenang pertama. Grasindo melabeli buku Farah dan pemenang lainnya dengan embel-embel "rasa baru" karena narasi yang disampaikan dengan bahasa yang baik. Jika membaca buku Rumah Tumbuh kita akan menemukan bagaimana Farah memakai bahasa yang baik saat bernarasi dan mengisi dialog-dialognya dengan menggunakan bahasa remaja pada tempat yang tepat. Hal semacam ini juga bisa ditemukan dalam Kana di Negeri Kana karya Rosemary Kesauly yang menjadi juara pertama lomba novel teenlit Gramedia tahun 2005. Jadi, kenapa tidak, memberikan pembaca-pembaca remaja kita fiksi yang ditulis dengan indah, cerdas, dan menggunakan bahasa yang baik tetapi tetap tidak kehilangan gaya remaja? Apakah remaja-remaja Indonesia memang hanya menyukai fiksi yang sarat dengan bahasa gaul seperti yang digunakan kebanyakan penulis teenlit saat ini? Mungkin perlu dipertanyakan kembali. 

Oleh karena itu, mendukung harapan yang dikemukakan Reda Gaudiamo, semoga kumpulan cerpen cinta karya Kurnia Effendi ini akan menjadi media pembelajaran yang baik bagi pembaca muda Indonesia. Bahwa dengan menggunakan bahasa yang baik, apik, dan indah, cerpen remaja juga bisa mencuri perhatian pembaca.
 
Kumcer ini merupakan kumcer terbaik yang pernah saya baca. Walaupun bagi remaja se-umuran saya kumcer ini terlihat 'terlalu kuno' dan berbahasa 'semi-baku' tapi entah mengapa saya amat menyukai kumcer ini. Klasik. Mulai dari judul, alur, watak tokoh, setingan tempat dan suasananya, semua saya suka! Awal saya berjumpa dengan kumcer ini pada saat saya kelas 2 SMK. Ketika saya sedang berada dibasecamp Gala*y Pelaja*, tanpa sengaja saya melihat sebuah rak buku, nah, disitulah ketika saya 'mengubrak-abrik' rak tersebut saya menemukan kumcer ini. Berwarna biru langit dengan sebuah gambar origami burung kolibri. Sederhana dan manis! Cerpen per cerpen saya baca. Dan.. really! I falls in love! Dan beberapa cerpen yang paling saya senangi ialah Di Ujung Senja, Hari-Hari Merah Jambu, Sepanjang Braga dan Angsa Putih. Cerpen sederhana yang berbalut bahasa yang manis dan puitis serta pemilihan diksi yang tepat menciptakan sebuah ruang imaji yang merah dadu. Entah kata-kata apalagi yang harus saya sampaikan untuk menggambarkan betapa manisnya kumcer ini. Mungkin cukup sekian, dan.. Ao Revoa Talemon!

Sebuah Sajak: Kunci Hati (1998)

Kunci Hati (1998)  


Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. Berkata-kata dengan bahasa yang hanya dipahami oleh nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang-kadang engkau tak terusik. Hanya kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya menyilaukan hingga kau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya engkau tersekap. Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis; membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya.
Di ruang kecil itu ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri.

Sebuah sajak dari Dewi Lestari (Dee) dalam bukunya yang berjudul Filosofi Kopi.
 

Konsep Dasar, Tujuan, dan Fungsi Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Dasar

Filsafat ilmu dalam konteks pendidikan dasar hadir sebagai upaya untuk menanamkan benih-benih berpikir kritis dan rasional sejak usia din...