Selasa, 12 Januari 2016

Membaca Novel Tingkatkan Kemampuan Bahasa dan Motorik

Membaca Novel Tingkatkan Kemampuan Bahasa dan Motorik



     Pecinta sastra dan novel, berbahagialah. Sebuah studi di bidang ilmu saraf dan kemanusiaan menemukan, membaca buku tidak hanya dapat mengubah sudut pandang, tapi juga mengubah sel-sel kelabu di dalam otak Anda.
     Para peneliti dari Emory University di Atlanta, GA, menerbitkan temuan mereka dalam jurnal Brain Connectivity. Ahli ilmu saraf, Gregory Berns, penulis dan direktur Emory's Center for Neuropolicy, mengatakan, "Cerita membentuk hidup kita dan dalam beberapa kasus membantu seseorang menemukan dirinya. Kami ingin memahami bagaimana cerita itu masuk ke otak Anda, dan apa yang mereka lakukan di sana. Untuk menyelidiki pikiran para pembaca novel, para peneliti merekrut 21 mahasiswa dari Emory. Mereka diminta untuk membaca sebuah thriller yang ditulis oleh Robert Harris pada tahun 2003, berjudul Pompeii.
     Berdasarkan kisah nyata letusan  Gunung Vesuvius di Italia kuno, Berns menjelaskan bahwa narasi buku ini bercerita mengenai tokoh protagonis, yang berada di luar kota Pompeii dan kisah mengenai munculnya asap dan hal-hal aneh terjadi di sekitar gunung berapi. Sementara si tokoh protagonis mencoba untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya kembali ke Pompeii, gunung berapi meletus dan orang-orang lain tidak mengenali tanda-tandanya. "Penting bagi kami memilih buku yang memiliki garis narasi yang kuat," kata Berns. Dia ingin peserta penelitian  membaca buku dengan plot menarik.

Mengubah area yang mengatur kemampuan bahasa dan sensor motorik
     Setelah melakukan scan fMRI, peneliti menemukan bahwa membaca novel menimbulkan efek di daerah otak yang bertanggung jawab untuk pengolahan bahasa dan kemampuan sensor motorik.
            Selama 19 hari berturut-turut, peserta studi dianalisa.  Untuk lima hari pertama, para peneliti melakukan scan fungsional magnetic resonance imaging (fMRI) pada otak relawan saat mereka dalam keadaan istirahat. Kemudian, selama 9 hari, para siswa diminta membaca bagian tertentu dari novel di malam hari. Kemudian mereka diteliti lagi pada keesokan paginya.
       Para siswa harus menyelesaikan beberapa soal untuk membuktikan bahwa benar mereka telah menyelesaikan bacaan yang ditugaskan. Setelah itu, mereka kembali menjalani fMRI dalam kondisi beristirahat.
         Setelah semua siswa selesai membaca Pompeii, mereka dibolehkan istirahat selama lima hari, namun mereka tetap menjalani fMRI. Hasilnya, para peneliti mengamati ada peningkatan konektivitas  di korteks temporal kiri, yang merupakan area otak yang terkait dengan pengolahan bahasa.
         Berns menjelaskan, bahwa konektivitas ini tetap ada meski siswa tidak lagi membaca buku apapun. Para peneliti juga memperhatikan peningkatan konektivitas di daerah otak yang dikenal sebagai pusat sulkus. Ini adalah daerah sensor motorik otak yang utama,  yang berhubungan dengan pembentukan represntasi sensasi tubuh. Para peneliti memberi contoh, ketika kita membayangkan gerakan berjalan, kita bisa mengaktifkan neuron di otak yang berhubungan dengan gerakan fisik yang sebenarnya dari berjalan. 


       Menariknya, perubahan saraf bukan merupakan reaksi instan semata tapi menetap lama jauh setelah kita selesai membaca buku. Berns mengatakan, temuan mereka menunjukkan bahwa membaca novel dapat membawa Anda masuk ke dalam tubuh tokoh utama dan otak Anda bekerja selayaknya si tokoh tersebut. "Dan semakin banyak buku yang Anda baca, semakin banyak tokoh yang Anda resapi, semakin meningkat juga kemampuan berbahasa dan motorik Anda," tambah Berns.

Kegiatan Mewarnai Sehatkan Mental Orang Dewasa

Kegiatan Mewarnai Sehatkan Mental 

Orang Dewasa




     Mewarnai kini bukan lagi kegiatan anak-anak. Orang dewasa juga beramai-ramai mengisi waktu luangnya dengan mewarnai. Konon kegiatan ini dapat menjadi terapi yang menyehatkan mental.
         Buku mewarnai dengan judul seperti "Johanna Basford's Secret Garden" laris manis di pasaran. Ada beberapa seri buku menurut tema-tema, misalnya etnik, hewan, desain bunga, dan sebagainya yang ditujukan bagi orang dewasa. 
    Tak ketinggalan, sejumlah pembuat pensil warna juga meluncurkan satu set alat mewarnai khusus untuk orang dewasa. 
     Tren mewarnai ini dimulai sekitar tahun 2014. Mulai dari peneliti di Johns Hopkins University sampai editor di jurnal Yoga juga sama-sama menyarankan kegiatan mewarnai sebagai alternatif meditasi.
    Banyak orang menganggap kegiatan mewarnai sama dengan terapi seni. Tetapi sebenarnya berbeda. Menurut American Art Therapy Association, terapi seni merupakan suatu proses dalam membuat dan menciptakan hasil karya seni sambil menjelajah perasaan, mengumpulkan lagi konflik emosional, memupuk rasa self-awareness, mengembangkan keterampilan sosial, mengurangi kecemasan, dan banyak lagi.
     Jadi, pada dasarnya terapi seni ini sama saja dengan terapi lain namun juga bisa menjadi media ekspresi personal. Walau begitu, mengisi waktu dengan mewarnai tidak sama persis dengan mengikuti sesi terapi seni dengan lengkap. "Mewarnai tidak bisa disebut terapi seni karena terapi seni bergantung pada hubungan antara klien dan terapis," kata Marygrace Berberian, terapi seni bersertifikat.

      Terapi seni pertama kali dipraktikkan sekitar tahun 1940-an, sementara penelitian yang mengungkap manfaat dari mewarnai sebagai terapi baru dilakukan di pertengahan tahun 1990-an. Meski mewarnai dan terapi seni bukan sesuatu yang sama, tetapi kegiatan mewarnai bermanfaat bagi kesejahteraan mental. "Mewarnai juga memiliki efek terapeutik untuk mengurangi kecemasan, meningkatkan fokus atau membuat kita merasa lebih sadar," kata Berberian.
     Seperti halnya meditasi, mewarnai juga membantu mematikan otak dari pikiran yang bersliweran dan fokus pada momen saat ini. Kegiatan ini juga efektif bagi orang yang merasa tidak nyaman mengekspresikan perasaannya melalui bentuk seni.

     Tetapi jika Anda memiliki masalah emosional atau mental yang lebih berat, terapi seni dinilai lebih efektif dibanding mewarnai seorang diri. Kegiatan mewarnai lebih cocok bagi mereka yang ingin merasa tenang. Dalam situs ColoringBooks.net disebutkan, orang dewasa yang ingin mewarnai disarankan menggunakan pensil warna, bukannya crayon. Pensil warna lebih mudah dalam membentuk gradasi atau mencampurkan warna.

Lebih Bahagia Punya Banyak Waktu atau Uang?

  Lebih Bahagia Punya Banyak Waktu atau Uang?

    Seseorang yang memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan melakukan hobi mereka, walau mendapat gaji sedikit—dinilai lebih bahagia ketimbang mereka yang lebih banyak berada di kantor demi sebuah gaji besar. Begitulah hasil penemuan terbaru.
    Menghabiskan waktu untuk sesuatu yang lebih berarti bagi kehidupan, baik dengan keluarga atau kerabat untuk berolahraga, bersenang-senang, dan liburan, bisa mengarahkan seseorang ke perasaan yang lebih memuaskan dari kekayaan.
     “Jika seseorang ingin lebih fokus untuk memiliki lebih banyak waktu, maka mereka harus bekerja lebih sebentar, bahkan ini berlaku untuk orang dari tingkat pendapatan yang berbeda-beda dan seluruh jenis kelamin,” saran peneliti.
    Peneliti utama Ashley Whillans, seorang psikolog di University of British Columbia melakukan enam studi yang melibatkan 4.600 peserta termasuk survei nasional yang melibatkan mahasiswa dan pengunjung di museum ilmu pengetahuan di Vancouver.
   Responden diminta menjawab pertanyaan tentang kehidupan sehari-hari, seperti pertanyaan ‘Apakah Anda akan lebih bahagia saat bekerja seharian, namun memiliki gaji yang lebih tinggi atau hanya bekerja sebentar namun dengan gaji yang lebih rendah?’
     Peneliti menemukan, orang yang lebih memprioritaskan waktu di atas uang dilaporkan mengalami kebahagiaan yang lebih besar. Pandangan bahwa Anda tidak bisa membeli kebahagiaan, tampaknya memang benar.
    Namun peneliti mengatakan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menyelidiki apakah kebahagiaan dari memprioritaskan waktu ketimbang uang muncul setelah kebutuhan keuangan seseorang terpenuhi, atau ini berlaku untuk semua kondisi ekonomi.

Teka-teki Naskah Kuno di Birmingham, Benarkah Al Quran Pertama di Dunia?

Teka-teki Naskah Kuno di Birmingham, Benarkah Al Quran Pertama di Dunia?




     Ketika Universitas Birmingham mengungkapkan bahwa mereka memiliki fragmen dari salah satu Al Quran tertua di dunia, pernyataan itu menjadi berita utama di seluruh dunia. Dalam hal penemuan, tampaknya mungkin tidak luar biasa, tetapi timbul pertanyaan lebih besar tentang asal-usul naskah kuno ini.
    Saat ini, ada sebuah pendapat dari Timur Tengah yang menyatakan bahwa penemuan tersebut bisa menjadi lebih signifikan dan spektakuler daripada yang diperkirakan. Ada klaim bahwa fragmen ini bisa jadi merupakan fragmen dari versi lengkap Al Quran pertama, yang ditugaskan kepada Abu Bakar—sahabat Nabi Muhammad—dan bahwa penemuan fragmen ini adalah penemuan paling penting bagi dunia Muslim.

Kecocokan dengan fragmen Paris
    Namun, beberapa dari potongan itu telah jatuh ke beberapa tempat. Tampaknya fragmen di Birmingham, setidaknya berusia 1.370 tahun, dan pernah tersimpan  di masjid tertua Mesir, Masjid Amr ibn al-As di Fustat. 
  Setelah dilakukan berbagai penelitian dan uji coba, para akademisi semakin percaya bahwa naskah Birmingham benar-benar cocok dengan fragmen di Perpustakaan Nasional Perancis, Bibliotheque Nationale de France. Pihak perpustakaan menunjuk pakar bernama Francois Deroche, sejarawan Quran dan akademisi di College de France, dan ia menegaskan bahwa fragmen di Paris merupakan bagian dari Al Quran yang sama dengan fragmen yang ada di Birmingham.
   Alba Fedeli, peneliti yang pertama kali mengidentifikasi naskah di Birmingham, juga yakin bahwa fragmen tersebut sama dengan fragmen di Paris.
     Hal terpenting yang diketahui adalah bahwa naskah di Paris juga berasal dari Masjid Amr ibn al-As di Fustat.

“Pergi diam-diam”
   "Fragmen Paris" dari manuskrip ini dibawa ke Eropa oleh Asselin de Cherville, yang menjabat sebagai wakil konsul di Mesir ketika negara itu di bawah kendali tentara Napoleon pada awal abad ke-19. Deroche mengatakan bahwa janda Asselin de Cherville sepertinya telah mencoba untuk menjual manuskrip ini dan manuskrip Islam kuno lainnya ke Perpustakaan Inggris pada tahun 1820-an, tetapi mereka berakhir di perpustakaan nasional di Paris, dan tetap di sana sejak itu.
   Jika seharusnya manuskrip ini berada di Paris, apa yang terjadi pada fragmen yang berada di Birmingham? Deroche menjelaskan, pada abad ke-19, manuskrip dipindahkan dari masjid di Fustat ke perpustakaan nasional di Kairo. 
    Sepanjang jalan, beberapa lembar “pergi diam-diam” dan memasuki pasar barang antik. Lembaran-lembaran tersebut mungkin dijual dan dijual kembali, sampai pada tahun 1920 mereka diakuisisi oleh Alphonse Mingana dan dibawa ke Birmingham.
    Mingana merupakan seorang Suriah, yang melakukan perjalanan ke Timur Tengah dengan didanai oleh keluarga Cadbury. "Tentu saja, tidak ada jejak resmi dari episode ini yang tersisa, tetapi itu pasti menjelaskan bagaimana Mingana mendapat beberapa lembar dari harta Fustat," kata Deroche. Yang menggoda, ia mengatakan bahwa fragmen sejenis lainnya, dijual ke para kolektor Barat, masih menunggu untuk ditemukan.

Tanggal disengketakan
    Namun, hal yang lebih kontroversial adalah penanggalan naskah di Birmingham. Hal yang benar-benar mengejutkan tentang penemuan Birmingham adalah tanggal awal, dengan pengujian radiokarbon yang menempatkannya antara 568 dan 645.
    Studi lebih lanjut mengungkap naskah itu bertanggal dalam kisaran 13 tahun setelah kematian Nabi Muhammad pada 632 M. David Thomas, profesor Kristen dan Islam Universitas Birmingham, menjelaskan bahwa naskah ditempatkan pada tahun-tahun awal Islam. "Orang yang benar-benar menulisnya dapat diketahui sebagai Nabi Muhammad."
    Tetapi, tanggal awal bertentangan dengan temuan akademisi yang berdasar pada analisis mereka terhadap gaya teks. Mustafa Shah, dari Departemen Studi Islam di School of Oriental and African Studies in London, mengatakan, "bukti grafis", seperti bagaimana ayat-ayat dipisahkan dan tanda gramatikal, menunjukkan ini berasal dari tanggal sesudahnya. 
     Dalam bentuk awal bahasa Arab ini, gaya menulis dikembangkan dan aturan tata bahasa berubah. Dr Shah mengatakan, naskah Birmingham tidak konsisten dengan tanggal awal. Deroche juga mengatakan bahwa ada kasus radiokarbon di mana naskah dengan tanggal yang diketahui telah diuji dan hasilnya salah.

Yakin tanggalnya akurat
     Akan tetapi, staf di unit akselerator radiokarbon Oxford University, yang menguji tanggal perkamen, yakin temuan mereka benar. Peneliti David Chivall mengatakan, keakuratan penanggalan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan pendekatan yang lebih dapat diandalkan untuk menghilangkan kontaminasi dari sampel. "Kami yakin bahwa kami melakukan penanggalan yang akurat."
    Selain itu, opini akademik dapat berubah. Shah mengatakan bahwa sampai tahun 1990-an pandangan akademis yang dominan di Barat adalah bahwa tidak ada versi tertulis lengkap Al-Quran sampai abad ke-8.
    Namun, para peneliti telah membalik konsensus ini, membuktikan hal itu "benar-benar salah" dan memberikan lebih banyak dukungan untuk catatan Muslim tradisional tentang sejarah Al Quran. Naskah yang cocok di Paris sebenarnya dapat membantu untuk menyelesaikan argumen tentang tanggal, tetapi sayangnya naskah itu belum diuji radiokarbon. 

Quran pertama
    Tetapi, jika penanggalan naskah Birmingham benar, lantas apa artinya? Hanya ada dua lembar di Birmingham, tetapi Prof Thomas mengatakan, koleksi lengkap akan terdiri dari sekitar 200 lembar yang terpisah.
    Kemudian, timbul pertanyaan tentang siapakah yang ditugaskan menulis dan menyusun Quran dan mampu memobilisasi sumber daya untuk memproduksinya? Jamal bin Huwareib, managing director dari Mohammad bin Rasyid Al Maktoum Foundation, sebuah yayasan pendidikan yang didirikan oleh penguasa Uni Emirat Arab, mengatakan, bukti menunjuk ke kesimpulan luar biasa. Ia percaya naskah di Birmingham adalah bagian dari versi pertama Al Quran yang ditulis komprehensif dan dirakit oleh Abu Bakar, khalifah Muslim yang memerintah antara 632 dan 634. "Ini penemuan paling penting yang pernah ada bagi dunia Muslim," kata bin Huwareib, yang telah mengunjungi Birmingham untuk memeriksa naskah. "Saya yakin ini adalah Al Quran dari Abu Bakar."
    Dia mengatakan, kualitas tinggi tulisan tangan dan perkamen menunjukkan bahwa lembaran ini adalah sebuah karya bergengsi yang dibuat untuk seseorang yang penting. Penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa fragmen tersebut berasal dari hari-hari Islam awal. "Versi ini, koleksi ini, naskah ini adalah akar Islam, itu adalah akar dari Al Quran," kata bin Huwareib. "Ini akan menjadi sebuah revolusi dalam mempelajari Islam,” tambahnya. 

"Naskah tak ternilai"
     Ada kemungkinan lain. Penanggalan radiokarbon didasarkan pada kematian hewan yang kulitnya digunakan untuk perkamen, bukan ketika naskah itu selesai ditulis. Itu berarti naskah bisa saja ditulis beberapa tahun kemudian dari rentang akhir  di 645, dengan Prof Thomas menunjukkan tanggal kemungkinan dari 650-655. Ini akan tumpang tindih dengan produksi salinan Al Quran pada masa pemerintahan khalifah Utsman—antara 644 dan 656, yang dimaksudkan untuk menghasilkan Al Quran versi standar dan akurat untuk dikirim ke komunitas-komunitas Muslim.
    Jika naskah Birmingham adalah sebuah fragmen dari salah satu salinan tersebut, tentu ini juga akan menjadi hasil yang spektakuler. Memang tidak mungkin untuk secara definitif membuktikan atau menyangkal teori tersebut. Tetapi, Joseph Lumbard, profesor di departemen bahasa Arab dan studi penerjemahan di American University of Sharjah, mengatakan, jika penanggalan awal benar maka tidak ada yang harus disingkirkan. "Saya tidak akan mengabaikan bahwa bisa saja fragmen tersebut berasal dari naskah kuno yang dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit di bawah kepemimpinan Abu Bakar.” "Saya tidak akan mengabaikan bahwa itu bisa saja menjadi salinan naskah kuno Usman. Saya juga tidak akan mengabaikan argumen Deroche, dia ahli di bidang ini," kata Prof Lumbard.
   Prof Thomas mengatakan bisa saja salinan-salinan dibuat, dan mungkin naskah Birmingham merupakan salinan dari salinan yang dibuat khusus untuk masjid di Fustat. Jamal bin Huwaireb melihat penemuan ini seperti "naskah tak ternilai" di Inggris, yang bukan sebuah negara Muslim, seperti mengirim pesan saling toleransi antar-agama. "Kita harus menghormati satu sama lain, bekerja sama, kita tidak perlu konflik," pungkasnya.

Alasan Generasi Muda Harus Belajar Musik

Alasan Generasi Muda Harus Belajar Musik



Memainkan alat musik berarti melatih  koordinasi anggota tubuh, seperti bermain gitar mengkoordinasikan tangan kanan dan tangan kiri. Tangan kanan bertugas memetik senar (picking) dan tangan kiri bertugan menekan senar pada fretboard (fingering). Begitu pula pada alat musik yang lain misalnya drum, kedua tangan dan kedua kaki saling berkoordinasi dalam memukul drum, sedikit tidak terorganisasi maka permainan akan kehilangan tempo dan drumer tidak bisa mengiringi lagu dengan baik.

     Dari koordinasi anggota tubuh bagian kanan dan kiri ini, otak sangat berperan karena otak kiri mengatur anggota tubuh bagian kanan, otak kanan mengatur anggota tubuh bagian kiri. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa orang Indonesia mempunyai otak yang dominan adalah otak kiri, sedangkan otak kanannya kurang di-optimal-kan. Banyak orang Indonesia yang pandai (IQ tinggi) tapi mempunyai sosial (EQ) yang kurang, akibatnya mereka kurang pergaulan (Kuper). Kalau kita tahu bahwa orang sukses adalah orang yang mempunyai otak kanan (EQ) yang berkembang, karena para orang sukses mampu bernegoisasi (salah satu aspek EQ) dengan baik dan dapat mengkoordinir orang-orang pandai (IQ).
     Dengan musik akan terlihat orang secara tidak langsung menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, banyak siswa lebih kreatif dalam memilih cara belajar yang sesuai sehingga nilai rapor tinggi, banyak orang yang bisa musik juga lebih bagus dalam bidang olahraga karena bagian ubuh sebelah kanan dan kiri terkoordinasi lebih sempurna. Tentunya masih banyak contoh lainnya, silahkan amati lingkungan disekitar Anda…
Kapan harus dimulai belajar musik?
     Untuk belajar apapun haruslah dimulai sejak dini atau se-awal mungkin, usia bukanlah batasan untuk tidak belajar karena manusia harus tetap belajar sampai ajal menjemput (pembelajaran seumur hidup). Untuk anak kecil ada beberapa cara untuk mengetahui “apakah anak sudah bisa diajarkan musik”. Berikut caranya:
1.       Apakah Anak dapat membedakan tangan kanan dan tangan kiri?
2.       Apakah Anak harus dapat berhitung 1-10 dan mengenal huruf A-Z?
3.       Apakah Anak dapat memainkan jarinya? (misal: menggenggam pensil)
4.       Apakah tubuh Anak cukup besar dalam memegang gitar? (berkaitan dengan jangkauan tangan)
5.       Apakah Anak cukup matang untuk menghadapi frustasi dan latihan dan tekun untuk meningkatkan kemampuan?
    Untuk usia minimal anak harus belajar memainkan alat musik adalah pada usia 8 tahun atau sembilan tahun.



   

Belajar Hidup dengan Empati, Simpati, dan Harmoni

Belajar Hidup dengan Empati, Simpati, dan Harmoni



Media sosial membuka ruang seluas-luasnya untuk berbagi. Sangat disayangkan jika tempat itu hanya diisi perseteruan, permusuhan, dan segala bentuk energi negatif lainnya. Ruang paling mudah dimanfaatkan dari media sosial adalah menulis dan membaca sesuatu yang membuat semangat hidup berlipat ganda.

Banyak hal-hal di sekitar masyarakat, yang bisa diambil dan kemudian membuat orang atau pembaca tersentuh. Semua itu ada di keseharian, tapi kerap luput dari perhatian banyak orang. 

Intinya, sesungguhnya untuk mengingatkan dirinya dan mungkin orang lain, bahwa setiap orang harus lebih banyak lagi belajar tentang kehidupan dengan banyak orang yang mereka temui, siapapun itu orangnya. Pesannya sangat sederhana dan ternyata tak mudah dilakukan. Yaitu, empati, simpati, dan harmoni adalah kunci menyikapi kehidupan ini.

Penting... Perguruan Tinggi Wajib Melek Teknologi!

    

Penting... Perguruan Tinggi Wajib Melek Teknologi!



 Perguruan tinggi kini perlu memanfaakan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas sistem manajemen dan pengajaran kampus. Hal itu mencakup infrastruktur, kurikulum, fasilitas, pelayanan, dan kegiatan belajar yang berbasis teknologi.
     Kenapa begitu penting? Teknologi Informasi (TI) memegang peranan penting jika perguruan tinggi ingin meningkatkan kualitas pendidikan ke taraf internasional. "TI mengambil peran penting dalam berbagai aspek, misalnyaresearch quality, teaching quality, innovation, facility, daninternationalization," kata Ivan Sangkereng, IT Director Universitas Bina Nusantara (Binus), seperti dikutip infokomputer.com, Kamis (9/4/2015).

     Ivan mencontohkan, di bidang pengembangan riset, perguruan tinggi perlu mengadopsi sistem penyimpanan data berbasis cloud computing. Selain produk riset menjadi mudah diakses, sistem ini juga membuka peluang bagi kampus untuk berkolaborasi dengan peneliti internasional. "Kalau dari segi fasilitas, kampus kami misalnya, telah terintegrasi dengan jaringan internet yang memadai sehingga dosen dan mahasiswa bisa menambah pengetahuan secara online," tuturnya.

     Sementara itu, untuk meningkatkan inovasi dan kualitas pengajaran, perguruan tinggi sebaiknya banyak berdiskusi bersama komunitas akademis dan pelaku industri. Hasil diskusi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan memperbaiki kurikulum atau metode pengajaran yang pada akhirnya juga meningkatkan kualitas lulusan universitas.
     Fungsi lain dari TI, misalnya, menyokong kegiatan belajar mengajar menggunakan metode pembelajaran elektronik atau e-learning. Portal khusus yang biasa disebut Learning Management System (LMS) ini bisa memberikan alternatif proses belajar lewat internet, baik dari desktop maupun mobile. Materi pembelajaran pun bisa dengan mudah diakses mahasiswa. "Binus sudah menerapkan blended learning yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah tertentu di luar kurikulum program studinya. Diharapkan, mahasiswa memiliki kesempatan memperluas wawasan," ucap Ivan.
Penuhi kebutuhan industri
     Tak dimungkiri, hingga kini, masih terdapat gap antara kebutuhan industri dan kualitas lulusan perguruan tinggi. Keluhan yang kerap didengar dari pelaku industri adalah lulusan universitas tidak siap bekerja, baik secara mental maupun keterampilan. Bagaimana TI mengambil peran memperkecil gap ini? "Kami melakukan beberapa hal. Misalnya riset internal dan eksternal untuk mendapatkan masukan kualitas pembelajaran," tutur Ivan.
     Hal lain yang dilakukan Binus, contohnya, dengan melakukan diskusi bersama pelaku industri dan mahasiswa untuk mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan industri. Semua data terkumpul ini masuk dalam sebuah knowledge management system yang berfungsi mengelola seluruh aktivitas internal pengajar Binus. "Dari sini, semua data dikombinasikan dan dieskalasi menjadivalue baru yang bisa dimasukkan ke dalam kurikulum dan konten," jelas Ivan.
     Lebih dari itu, kerja keras Binus mengelola dan memanfaatkan kemajuan teknologi ternyata turut mendapat pengakuan dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah III. Pada Rabu (2/12/2015) lalu, Binus meraih gelar sebagai "Perguruan Tinggi Swasta Terbaik 2015".

     Sebanyak 7 kategori dimenangkan, yaitu untuk bidang teknik, komputer, riset dan pemanfaatan, tata kelola, pembinaan mahasiswa, pengembangan dosen, dan pengembangan kerja sama. "Raihan ini merupakan hasil kerja keras dari rekan-rekan dosen, staf dan mahasiswa di lingkungan kampus Binus University yang telah mewujudkan keberhasilan ini jadi nyata," ucap Prof Harjanto Prabowo, Rektor Binus kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2015). "Namun terbaik juga tidak selamanya, kita setiap saat juga harus perbaiki terus," lanjutnya.

      Di sisi lain, Ivan berharap pemimpin TI di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, juga lebih responsif terhadap perubahan dan perkembangan teknologi. Mereka, lanjut Ivan, harus siap dan mampu mengaplikasikan TI dalam value chain atau aktivitas di perguruan tinggi.

Mau Mendapat Beasiswa? Buatlah Potret Diri Anda yang "Charming"!

Mau Mendapat Beasiswa? Buatlah Potret Diri Anda yang "Charming"!



     Sebutlah, Anda lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) terkenal dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,8. Dengan modal itu, Anda ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 di bidangfood technology di Wageningen University, sebuah universitas pertanian terbaik di dunia yang berada di Belanda. Saat diminta menjelaskan mengapa Anda melamar program tersebut, kira-kira apa jawaban Anda? 

     Jika jawaban Anda adalah ingin memperdalam ilmu yang telah didapatkan di Indonesia atau ingin meraih karir yang baik di bidang tersebut, maka bersiaplah Anda bersaing dengan ratusan mahasiswa lain untuk bisa studi di kampus itu. 

     Kenapa? Karena akan ada beratus orang yang menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama dengan Anda. Anda tidak sendiri! Lalu, jika ditanya lagi, manfaat apa yang akan Anda berikan dengan ilmu yang Anda akan dapatkan nanti bagi organisasi, institusi, komunitas, bangsa dan negara, apa kira-kira jawaban Anda? 

     Boleh jadi, dengan optimistisnya Anda menjawab akan membawa ide-ide baru bagi organisasi Anda dan berkontribusi penuh terhadap pembangunan di bidang tersebut. Jika benar itu adalah jawabannya, maka bersiap-siaplah Anda akan bersaing dengan ratusan orang yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban sama. Ya, jawaban yang generik dan normatif, tidak artikulatif!


Mengapa 
     Banyak pelajar yang menemui kesulitan dan tidak dapat menjawabnya dengan tepat dan artikulatif tentang motivasi mereka untuk meneruskan studi di luar negeri dan mengambil bidang studi tersebut. 

     Jawaban standar biasanya, "Saya ingin memperdalam ilmu yang saya dapat saat kuliah S-1,". Atau, jawaban lainnya, "Saya ingin memperluas wawasan saya, atau ingin mendapat pengalaman internasional,". Bahkan, ada jawaban yang lebih sederhana lagi. "Karena bidang studi S-2 yang saya ambil ini sama dengan program studi S-1 saya,". 

     Sepertinya, pertanyaan berbau ‘mengapa’ cukup sulit dijawab oleh sebagian besar pelajar Indonesia. Padahal, pertanyaan seputar 'mengapa' itulah yang justru menjadi kunci untuk menentukan pelajar tersebut layak diterima di suatu perguruan tinggi atau menjadi penerima beasiswa. 

     Mengapa? Mengapa Anda ingin kuliah di negara tersebut dan mengambil bidang studi tertentu? Mengapa Anda layak menjadi penerima beasiswa? Mengapa Anda merasa lebih baik dari kandidat lain? Mengapa dari kacamata lembaga pemberi beasiswa, ‘investasi’ yang mereka tanamkan ke Anda akan mendatangkanreturn lebih baik ketimbang pada kandidat lain? 

    Mengapa universitas-universitas berkelas dunia tersebut rugi besar jika tidak memberikan Anda letter of admission? Masih banyak 'mengapa' lainnya untuk dijawab. 


Motivasi
     Banyak pemburu beasiswa mengira bahwa dengan berbekal IPK tinggi dari universitas terkenal dan nilai bahasa Inggris tinggi, maka otomatis pintu akan terbuka lebar-lebar dan mereka dengan mudah melanjutkan studi atau meraih beasiswa di luar negeri. Mereka lupa, ada beratus-ratus, bahkan beribu pelamar lain memiliki IPK di atas 3 atau nilai IELTS di atas 6.5. 

     Nilai dan angka tersebut hanyalah persyaratan minimal. Itu semua hanya knock out of criteria. Agar dapat terpilih, harus ada faktor lain yang mampu membuat si pelamar mengungguli pelamar lain. Faktor itu harus mampu membedakan Anda dengan pelamar lain. Apa itu? Motivasi!

     Lembaga pemberi beasiswa memang akan mencari kandidat yang punya motivasi kuat dan tujuan studi yang jelas. Mereka mencari kandidat dengan self awareness tinggi terhadap kekuatan dan kelebihannya. Juga, terhadap potensi dan passion yang dimilikinya. 

     Para kandidat juga harus mampu membaca faktor-faktor eksternal dan perubahan global, misalnya tentang kelangkaan energi, ketahanan pangan dan perubahan iklim, selain tentu saja isu-isu geopolitik, perubahan perilaku sebagai dampak digitalisasi dan mampu memprediksi bermacam perubahan di masa depan. 

     Kemampuan membaca dan memahami faktor internal (potensi, minat, passion) atau self awareness dan sensibilitas membaca faktor eksternal (perubahan global, tantangan masa depan) dan ‘mengemasnya' menjadi satu paket yang "menggiurkan" pihak pemberi beasiswa, adalah keharusan bagi para pemburu beasiswa.
 
     Di tengah ratusan, bahkan ribuan formulir pendaftaran yang masuk, motivation statement dan CV yang artikulatif, yangdistinctive, menjadi satu nilai jual di mata lembaga pemberi beasiswa. Baik itu motivation statement dan CV harus bikin mereka kepincut! 

     Ingat, pemberi beasiswa tidak akan memberikan beasiswa kepada pelamar yang sekedar mencari pengalaman internasional atau memperluas jejaring, apalagi hanya ingin naik golongan karena telah mendapatkan gelar akademis lebih tinggi. 

     Pemberi beasiswa tidak akan pernah kepincut dengan pelamar yang motivasi utamanya belajar ke luar negeri sekadar untuk mendapat posisi lebih baik sepulang studi di negeri orang. Organisasi pemberi beasiswa manapun mendapat mandat yang sama dari pendonor masing-masing, yaitu mencari kandidat terbaik, yang worth investing! Anda harus menjadi kandidat yang benar-benar diperhitungkan! 

     Memangnya kenapa kalau Anda lulusan PTN ternama dan lulus sebagai lulusan terbaik? Memangnya kenapa kalau Anda pernah jadi pemimpin organisasi mahasiswa di kampus? Tidak berarti apa-apa jika Anda tidak bisa mengkaitkan potensi diri anda dengan study objective Anda? 


     Yang terjadi akhirnya adalah sebuah paradoks, yaitu di satu sisiover valuation. Yaitu, kondisi dimana Anda merasa yang terbaik dan paling berkualifikasi tanpa dibarengi self awareness tentang kekuatan dalam diri Anda tersebut dapat menjadi katalis bagi keberhasilan studi dan rencana masa depan setelah selesai studi. Enggak nyambung!

Siapkan potret diri Anda!
     Bagi Anda yang pernah melihat lukisan potret diri dari pelukis besar Affandi di museum Affandi di Yogyakarta atau pelukis legendaris Vincent van Gogh di Van Gogh Museum di Amsterdam, tentu setuju kalau lukisan-lukisan tersebut, walaupun terlihat sangat sederhana, tidak glamor dan neko-neko. Lukisan itu tidak rumit, tapi lain dari yang lain, dan berhasil mencuri perhatian. 

     Lukisan Affandi berkaos oblong sambil menghisap pipa seakan mengeluarkan pernyataan: "Inilah aku (self awareness). Aku dengan kebersahajaanku, sekaligus kekuatanku. Aku dan duniaku,passion-ku dan visiku!". 

     Begitu juga lukisan potret diri Van Gogh. Sederhananya lukisan tersebut, tapi mampu menyihir karena lugas mengatakan: "Lihatlah aku, sang maestro!". 

     Jadi, motivation statement dan curriculum vitae tidak perlu berbunga-bunga, apalagi copy paste dari sumber lain. Buatlah lukisan potret diri yang lugas, tidak perlu cantik, tapi charmingdan dapat mencuri perhatian tim seleksi beasiswa. 

     Buatlah lukisan potret diri yang tidak membuat pemberi beasiwa nantinya akan mengatakan "Kalian berhutang pada negara, dan kalian beruntung mendapatkan beasiswa ke luar negeri!". Tapi, lukisan potret diri Anda yang mampu berkata: "Negara atau pemberi beasiswa akan sangat beruntung memilih saya. Cause I deserve it!".

Selamat berburu beasiswa!

Selasa, 01 Desember 2015

Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Lanjut S2

Hal-Hal Yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Lanjut S2
Pertimbangkan Ini Sebelum Lanjut S2

Pendidikan yang tinggi serta karir yang mapan adalah dampaai setiap orang. Sehingga tak jarang kita memimpikan pendidikan yang setinggi-tingginya demi keberhasilan dan mewujudkan impian kita. Bagi sebagian orang pendidikan yang tinggi memiliki nilai tersendiri, mulai dari kenaikan derajat dimasyarakat hingga hanya demi formalitas. 

Kini pendidikan jenjang sarjana sudah hal yang wajar. Kini paradigma berubah ke jenjang berikutnya yaitu ke jenjang magister atau S2. Kini banyak orang yang menempuh jenjang S2 dengan berbagai alasan dan kepentingan, mulai dari demi tuntutan kerjaan, pengembangan profesi hingga hanya untuk gagah-gagahan saja. Jika anda ingin menempuh studi lanjut S2 maka pertimbangkan beberapa hal berikut:

1.  Peluang jenjang karir 
Jenjang karir merupakan salahs atu pertimbangan dalam menentukan studi lanjut. Pastikan ketika telah lulus S2 kariri anda akan menanjak dan akan menempati posisi yang lebih baik dari posisi anda yang sekarang. Jika diperkirakan setelah lulus nanti hanya staganan di posisi anda saat ini maka pikirlah kembali keputusan itu. 

2.  Peluang kerja 
Pendidikan merupakan sebagian syarat dalam memperoleh pekerjaan. Karena fenomena yang ada di Indonesai saat ini ketika orang menempuh pendiidkan adalah untuk bekerja belum pada pembuat lapangan kerja. Kini tak sedikit lulusan S2 yang menganggur karena terpancang oleh mindset gaji yang diperoleh. Jika bekerja pada gaji rendah kemudian berfifkir "masa S2 gajinya sedikit?", tetapi jika ingin mendapt gaji besar tak ada pekerjaan yang ia dambakan sehingga terjebak dalam kondisi menganggur. 

3.  Relevansi dengan profesi 
Relevansi dengan profesi juga merupakan hal penting, agar ilmu yang diperoleh merupakan pendalaman materi pada jenjang S1 sehingga akan lebih bermanfaat. Jangan sampai jurusan yang diambil saaat S2 hanya sembarangan dan asal-asalan hingga akhirnya mengalami kesulitan dalam studinya. Sebgai contoh seorang guru maka ambilah jenjang S2 yang sesuai dengan profesinya sebagai guru. 

4.  Waktu studi 
Waktu studi merupakan hal yang penting, apalagi bagi orang yang bekerja full time. Perhatikan antara waktu yang telah tersedia dengan jadwal perkuliahan. Jangan sampai studinya berantakan hanya karena jadwal kerja yang padat, sehingga masa studi menjadi lebih panjang dan memakan banyak biaya. Dengan petimbangan matang dan baik maka akan mendukung kita ke arah kesuksesan. Studi lanjut tak hanya sekedar gelar semata, melainkan usaha untuk berkembang dan menambah ilmu pengetahuan.

Kiat Tangkis Stres akibat Terlalu Aktif di Media

Kiat Tangkis Stres akibat Terlalu Aktif di Media 


Media sosial awalnya hadir sebagai hiburan pendukung dari perkembangan ponsel pintar di dunia. Seiring waktu, fungsi media sosial yang awalnya sebagai alternatif untuk berkomunikasi dengan teman-teman lama, sekarang menjadi platform utama aktivitas keseharian sebagian besar orang-orang modern.
Memang media sosial menyenangkan, tapi Anda harus hati-hati. Pasalnya, media sosial merupakan “racun” yang melemahkan kebahagiaan Anda dan mengubahnya menjadi stres berkepanjangan.
Menurut seorang psikiatri, Dr Anjali Chhabria, pandangan orang terhadap media sosial mempengaruhi kadar stres mereka. Terlalu terlibat dan aktif di media sosial, kata Dr Chhabria, bisa mengundang pikiran yang resah, labil, dan emosi yang tidak seimbang.
“Semakin banyak teman Anda di media sosial, maka rasa penasaran dan kompetisi terhadap kehidupan mereka semakin tinggi,” urai Dr Chhabria.
Alasan tersebut bisa dibilang masuk akal. Sebab, dewasa ini, banyak orang menggunakan media sosial bukan lagi untuk komunikasi, tapi untuk memamerkan pencapaian dan kebahagiaan semu di dunia maya.
“Bukan hanya stres, banyak orang tidak menyadari bahwa media sosial juga menyebabkan mereka sulit tidur di malam hari. Tubuh yang kurang tidur rentan stres,” terangnya.
Dr Chhabari menganjurkan tiga langkah untuk menghalau stres karena sering menghabiskan waktu di media sosial:
1.  Hidup aktif secara nyata
Berolahraga dan banyak melakukan aktivitas di luar ruangan menstimulasi produksi hormon bahagia. Sehingga, tubuh pun terasa lebih rileks dan stres tak mudah datang. Memang olahraga tidak bisa menghilangkan stres dalam waktu sekejap. Namun, ampuh dalam mengubah cara pandang dan bagaimana Anda menyikapi kehidupan secara nyata.

2.  Rajin mengonsumi teh herbal
Banyak jenis teh herbal yang bisa menenangkan pikiran yang sedang tegang. Seduhlah teh chamomile, ginseng, atau teh hijau untuk membuat pikiran terasa lebih damai.

3.  Jangan pelit ucapan “Terima Kasih”
Sering mengucapkan “Terima Kasih” tanpa Anda sadari akan menyeimbangkan hidup Anda setiap hari. Fokuskan pikiran pada hal-hal positif ketimbang menciptakan kompetisi gaya hidup di media sosial.

Konsep Dasar, Tujuan, dan Fungsi Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Dasar

Filsafat ilmu dalam konteks pendidikan dasar hadir sebagai upaya untuk menanamkan benih-benih berpikir kritis dan rasional sejak usia din...